Senin, 25 Juni 2012

Parasit


Parasit (berdasarkan arti katanya, bhs Yunani) merupakan semua organism yang hidup menumpang pada organism lain (host/inang) untuk mendapat tempat hidup dan memenuhi kebutuhan nutriennya dengan mengambil nutrient inang.
Dengan definisi tersebut, yang dimaksud parasit (secara luas) mencakup semua agen infeksius meliputi: virus, bakteri, jamur, protozoa, dan helminthes (cacing).
Namun, praktisnya, saat ini bidang yang menelaah agen-agen infeksius terbagi atas mikrobiologi (bakteri, virus, jamur) dan parasitologi (protozoa, helminthes)
 HETEROGENITAS AGEN-AGEN INFEKSIUS
Agen-agen infeksius terbagi menjadi 2 subdivisi:
1. Mikroparasit
- Ukuran kecil (mikroskopik)
- Kecepatan reproduksi tinggi
-  cenderung transien
àBertendensi untuk menginduksi imunitas host untuk merespon adanya reinfeksi
- Durasi infeksi pendek dibanding angka harapan hidup host
2. Makroparasit
- Ukuran macros
- Kecepatan reproduksi rendah
pada Helminthes, reproduksi langsung pada tubuh host sejati tidak berlangsung
- Cenderung persisten
Sesuai dengan perbedaan karakteristik itu, terjadi keberagaman (heterogenitas) sifat agen-agen infeksius sehubungan dengan hal-hal berikut:
1. Siklus/ sistem transmisi masing-masing parasit
yang setidaknya terduru atas 9 komponen yang melibatkan antara lain:
a. Vektor
b. Host intermediate
c. Host reservoir
d. Tahap-tahap di luar tubuh vector/ host (lingkungan luar)
2. Lokalisasi dan migrasi parasit dalam tubuh manusia
Agen-agen infeksius tersebut dapat berpindah-pindah dalam tubuh manusia (migrasi) dan menetap (terlokalisasi) pada:
a. Kulit
b. Traktus respiratorius
c. GI tract
d. Darah , dll
3. Infeksi dan disease pada manusia
Agen-agen infeksius masuk ke dalam tubuh manusia melalui bergam cara, kemudian menimbulkan penyakit dan manifestasi klinis yang beragam pula. Dalam hal ini,infeksi didefinisikan sebagai masuk dan hidupnya agen infeksius dalam tubuh inang. Sedangkan disease dikatakan muncul dengan adanya manifestasi klinis berupa tanda dan gejala akibat infeksi tersebut.
Heterogenitas pemunculan infeksi dan disease oleh masing-masing agen infeksius dipengaruhi oleh:
a.  virulensi parasit
àDari segi agen infeksius/ parasit
b.  resistensi host
àDari segi host
HUBUNGAN PARASITOLOGI DENGAN ILMU LAIN
Dalam perkembanganya, parasitologi tentunya tidak lepas dari ilmu-ilmu yang lain, terkait pada hal-hal berikut:
1. Taksonomi
Sebelum merambah ke disiplin ilmu yang lain, tentunya diperlukan adanya pengetahuan mengenai subyek parasitologi itu sendiri. Yakni dengan mengidentifikasi dan mengklasifikasi organisme parasit yang dipelajari dalam parasitologi menurut klasifikasi yang diterapkan pada taksonomi.
2.  epidemiologi
àDisiplin Ilmu social
Untuk memahami epidemiologi parasit, diperlukan pengetahuan menganai:
- Faktor social
- Iklim
- Budaya setempat
- Ekonomi global
3. Ekologi dan embriologi parasit
Dalam mengatasi masalah yang muncul oleh infeksi parasit ini, manusia berusaha untuk menyembuhkan penderita (yang terinfeksi) dan mengeliminasi agen infeksius.
Untuk dapat melaksanakan usaha tersebut diperlukan pemahaman mengenai:
1.  pengetahuan tentang siklus hidup parasit yakni
àEkological event  transmisi dari satu host ke host lain beserta tahapan eksternalnya
2.  pengetahuan tentang reproduksi parasit
àEmbriological event  (inget, blok nya dr kadek: Occupational Health Care Service bab kedokteran agroindustri, membasmi tahapan embrional parasit jauh lebih efektif daripada membasmi stadium dewasanya)
4.  biologi molekuler
àDasar-dasar biologi kehidupan
Dasar biologi sel antara parasit dengan organisme bebas tidak berbeda, sehingga parasit dapat digunakan untuk mempelajari genetika molekuler dan ekspresi gen, serta meneliti metode diagnose penyakit infeksi dan pembasmian parasit.
Contoh: Trypanosoma, salah satu protozoa, digunakan untuk meriset genetika molekuler dan ekspresi gen
5. Ilmu lain yang menelaah agen infeksius
Disiplin ilmu lain, bukan cabang ilmu dari parasitologi
- Virology
- Bakteriologi
- Mikologi
- Nematologi tumbuhan
PARASITOLOGI DAN KEHIDUPAN MANUSIA
Penyakit infeksi masih menjadi ‘primary killers’ atau pembunuh utama manusia. Berbagai macam isu dan permasalahan seputar infeksi parasit pada manusia yang tak kunjung usai hingga saat ini dan masih menjadi perhatian utama dunia:
1. Mayoritas infeksi serius (dpt berujung pd kematian) umumnya terjadi di negara tropis yang biasanya merupakan negara kurang maju atau negara berkembang
2. Ironisnya, perusahaan-perusahaan farmasi tidak bersedia membiayai penyediaan obat untuk ‘orang-orang yang tidak mampu membayar’ termasuk negara terbelakang dan berkembang yang biasanya mengalami problem financial
3. Negara-maju, terutama US, menganggap sebelah mata masalah penyakit infeksi ini karena memiliki nosi bahwa ‘Amerika bebas cacing gitu lohhh..’ (hehe) dalam artian, penyakit infeksius tidak lagi menjadi ‘burden disease’ (lagi-lagi inget, bok dr Kadek ttg triple burden disease). Mereka menganggap penyakit infeksius bukan masalah mereka, tapi masalah negara terbelakang-berkembang. Meski mayoritas penyakit infeksius terjadi di negara berkembang-terbelakang, namun bukan berarti negara maju bebas total dari penyakit infeksi. cacing kremi contohnya, menyerang semua kalangan sosioekonomi (orang amrik juga bisa kremien tauk! :p)
4. Kurangnya pengetahuan mengenai parasit dan penyakit infeksius menimbulkan kurangnya kesadaran akan bahaya parasit
5. Timbulnya ‘penyakit baru’ yang sebenarnya adalah ‘drug resistance’ atau kekebalan terhadap obat tertentu, umumnya antibiotika dan obat yang digunakan pada pathogen yang sudah lama dikenal.
6. Meningkatnya migrasi warga antar negara meningkatkan pula migrasi parasit (parasit dibawa oleh manusia dan menular)
7. Munculnyan disease akibat infeksi tergantung pada kondisi tubuh host (lihat lagi chapter 2) sehingga malnutrisi dapat memperparah infeksi. Malnutrisi diakserbasi oleh:
a.  penurunan produksi pangan
àKerusakan lingkungan
b.  ga duwe duit go tuku sego, cah!
àMasalah financial
8. Terbuangnya kalori yang dihasilkan intake makanan akibat demam yang terjadi pada penyakit infeksius
9. Upaya peningkatan derajat hidup dan pembangunan negara dapat pula menimbulkan masalah. Contoh kasus:
a. Pembangunan bendungan aswan menyebarkan penyakit-penyakit infeksi melalui aliran airnya yang merata ke daerah-daerah
b. Peminjaman dana oleh bank dunia kpd brazil untuk membiayai penduduk kota yang miskin supaya bertani di pedalaman tanpa panduan dari pihak agrikultur menimbulkan masalah berupa penyebaran malaria ke dalam kota akibat terbawa oleh para petani tersebut dari pedalaman kembali ke kota karena gagal bertani.
Hal-hal tersebut merupakan dilemma yang harus dipertimbangkan dalam mengatasi masalah yang ditimbulkan parasit
PARASiT PADA HEWAN LIAR DAN JINAK
1.  epizooticàHewan liar lebih tahan terhadap infeksi parasit (infeksi tapi ga mudah disease) sehingga disebut-
2. Parasit pada hewan liar dan jinak dapat menginfeksi manusia menimbulkan penyakit
Penyakit yang muncul disebut: zoonosis
3. Contoh:
Trichinella sp hidup pada siklus sylvatic yang terdiri atas hewan liar, jinak, dan manusia
Di samping sisi merugikan, parasit pada hewan juga dapat dimanfaatkan /mendatangkan keuntungan, yakni sebagai pengendali populasi spesies tertentu. Parasit, sebagaimana predator dan kompetisi antar spesies, memegang peranan dalam membatasi jumlah individu dalam populasi spesies tertentu.
 APA ITU HEWAN PARASIT?
Parasitologi yang dipelajari kali ini membahas tentang: hewan yang bersifat parasit.
Secara awam, hewan parasit identik dengan hewan pembawa penyakit yang menjijikkan seperti lalat, dsb. Sedangkan secara biologi, definisi parasit yang dapat bukan berdasarkan bahaya yang ditimbulkan bagi host, namun lebih kepada hal yang lebih mendasar yaitu: cara hidup untuk memenuhi kebutuhannya akan makanan. Cara hidup organism parasit ini disebut parasitisme. Berdasarkan cara hidup tersebut, parasitisme harus dibedakan dengan yang lain:
1. Parasitisme vs Komensalisme
a. Parasitisme
i. Hewan parasit memenuhi kebutuhan nutriennya dengan cara mengambil dari host
ii. Terjadi hubungan organic antara jaringan hewan parasit dengan host (untuk transport makanan)
iii. Prinsip hubungan:
1. Infeksi hewan parasit membahayakan host dengan menimbulkan kerusakan jaringan
2. Host melawan hewan parasit dengan membangun resistensi
Besarnya kedua aspek tersebut menentukan tingkat toleransi antara hewan parasit dengan inang, dengan arti:
• Infeksi > resistensi, host kalah
• Infeksi < resistensi, hewan parasit kalah
b. Komensalisme
i. Hewan komensal dapat memenuhi kebutuhan nutrient tanpa mengambil dari host
ii. Tidak ada hubungan organic antara jaringan hewan parasit dengan host (untuk transport makanan)
iii. Prinsip hubungan
1. Hewan komensal tidak menimbukan kerusakan jaringan dan tidak mengambil nutrient host
2. Tidak ada bahaya pada host
Baik pada parasitisme dan komensalisme, yang sama antara hewan parasit dan hewan komensal adalah : “keduanya tidak dapat hidup tanpa host.”
2. Parasitisme vs Predator
a. Parasitisme : kebalikannya
b. Predator
i. Merusak tubuh mangsa & memakan jaringan tubuh mangsa
ii. Ukuran tubuh lebih besar dan lebih kuat dari mangsa
iii. Tidak menggunakan mangsa sebagai tempat hidup
Penggolongan parasit:
1. Berdasar letak
a. Endoparasit (internal parasite)
Hidup di permukaan tubuh host
b. Eksoparasit
Hidup di dalam tubuh (saluran maupun organ) host
2. Berdasar rentang waktu infeksi
a. Temporary parasite
Parasit yang tinggal pada tubuh host hanya pada saat butuh mengambil nutrient.
Sebenarnya non-parasit, tapi karena memiliki ketergantungan mutlak pada host untuk memenuhi makanan, maka digolongkan parasit. Contoh: nyamuk
b. Permanent parasite
Menghabiskan hampir seluruh waktu hidup di dalam tubuh host
3. Berdasar cara hidup
a. Facultative
Dapat hidup baik secara parasit maupun non parasit
b. Obligatory
Mutlak parasit
4. Jenis parasit lain
a. Hiperparasit
Parasit pada parasit lain
b. Wandering / aberrant parasite
Parasit yang berkelana (‘wandering’) ke jaringan lain yang tidak sesuai. Parasit masuk ke tubuh host yang sesuai namun ‘nyasar’ ke jaringan lain dan mati karena jaringannya tidak sesuai.
c. Occasional / accidental parasite
Parasit yang dapat menyerang organism yang tidak biasa digunakan sebagai host nya (‘unusual host’). Contoh: fasciola hepatica yang biasa parasit pada domba dapat menginfeksi dan bersifat parasit pada manusia.
d. Pseudoparasite
Parasit yang menginfeksi host melalui stadium yang sebenarnya tidak berbahaya.
Dari perbandingan-perbandingan itu, jelas bahwa:
‘parasit adalah makhluk hidup yang membangun hubungan fisiologik antar jaringan di permukaan maupun di dalam tubuh individu spesies lain dengan tujuan untuk memenuhi kebutuhan nutrient parasit.’
JENIS-JENIS HEWAN PARASIT
Phylum hewan parasit:
1.  uniselular
àProtozoa
2.  cacing gelang
àAnnelida
3. Nemathelminthes
4. Platyhelmynthes
5. Arthropoda
 DAUR HIDUP
1. Direct Life History
 1 host, transmisi berlangsung dari 1 individu host ke individu lain
à1 daur hidup
2. Indirect Life History
 2 atau lebih host, dengan klasifikasi:
à1 daur hidup
a. Intermediate host (larval host)
i. Host dimana larva tumbuh
b. Definitive host (final host)
i. Host dimana telur diproduksi oleh hewan dewasa
Selain itu, terdapat pula:
a. Transport host
Host yang hanya digunakan sebagai pembawa atau ‘kendaraan’ menuju host yang lain. Yang perlu ditekankan: larva berada dalam tubuh transport host dalam keadaan tidak mengalami pertumbuhan atau perkembangan
b. Alternative host
Satu jenis hewan parasit dapat hidup dan berkembang biak pada beberapa spesies (memiliki beberapa spesies host final)
Dengan demikian, dapat dikatakan bahwa, suatu jenis parasit dapat hidup pada:
1. Normal, usual, or principal host
Host yang biasa (normal) dipakai sbg tempat hidup, dan hewan parasit mampu mengambil nutrient secara efektif
2. Abnormal, unusual, or occasional host
Host yang tidak biasa dipakai sbg tempat hidup, dan hewan parasit mengambil nutrient tidak seefektif pd host normal
Untuk dapat mengurangi transmisi parasit, perlu diketahui spesifitas tiap-tiap jenis parasit (hewan a spesifik pada host b, dll) dan juga host reservoir nya (host yang hanya digunakan sebagai reservoir infeksi).

Lemak dan minyak

•Lemak dan minyak merupakan sumber energi yang efektif karena 1 gram minyak / lemk dapat menghasilkan 9 kkal.
•* Lemak / minyak juga sebagai sumber dan pelarut bagi vitamin A,D,E dan K.
Kelompok lipida
1.Kelompok trigliserida ( lemak, minyak, asam lemak)
2.Kelompok turunan asam lemak ( lilin, aldehide, asam lemak).
3.Fosfolipid, glikolipid
4.Sterol dan steroida
5.Karotenoid
6.Kelompok lipida lain
Lemak tersabunkan
Lemak / minyak + NaOH→ garam Na – asam lemak + gliserol.
Malam + NaOH → garam Na asam lemak + alkohol.
Fosfolipid + NaOH → garam Na asam lemak + gliserol + Na3PO4+ amina.
Sterol, pigmen,hidrokarbon + NaOH →
Pembentukan lemak
Sifat – sifat lemak / minyak
Sifat fisik
1.Tidak larut dalam air
2.Fiskositas meningkat bila rantai  C semakin panjang, suhu semakin rendah dan ikatan jenuh.
3.Berat jenis ( g/cm3) semakin menigkat bila suhu rendah dan berat molekul tinggi dan ikatan jenuh.

4. Lemak berbentuk padat dan plastis karena ada fase padat dan cair.
5.Titik cair semakin meningkat bila rantai C semakin panjang.
Sifat kimia minyak
Dapat dihidrogenasi
Dapat dioksidasi
Dapat mengalami reksi iodisasi
Bereaksi dengan basa membentuk sabun
Penentuan kualitas minyak
1.Angka asam : jumlah mg basa yang diperlukan untuk menetralkan asam lemak bebas dalam 1 gram lemak.
2.Angka Peroksida : ml equivalen peroksida tiap kg minyak
Penentuan kadar minyak
1.Soxhletasi
2.Botol Babcock dan kaliper

TEKNOLOGI PENGOLAHAN MINYAK
1.Mutu Minyak
mutu suatu bahan menurut  A. Kramer dan BA Twigg, adalah gabuangan sifat –sifat khas yang dapat membedakan setiap jenis bahan. Gabungan sifat khas tersebut sangat berpengaruh terhadap penerimaan bahan oleh konsumen atau pembeli. Sifat khas yang dimaksud untuk setiap bahan berbeda, sifat khas pada minyak berbeda dengan sifat khas pada susu, daging dan sebagainya.Dalam hal ini bahan yang mempunyai gabungan sifat khas seperti yang dikehendaki konsumen dikatakan bermutu baik. Di Indonesia mutu yang baik dari berbagai bahan, termasuk minyak makan diberikan dalam standard Industri Indonesia ( SII ).

2. Kerusakan Minyak
Proses perubahan atau kerusakan minyak dapat berlangsung menurut beberpa cara.Pada dasarnya dapat dikelompokkan menjadi dua peristiwa yaitu :
Hidroliss minyak, dihasilkan asam lemak dan komponen lain, diikuti oleh oksidasi asam lemak tidak jenuh.
Oksidasi secara langsung terhadap asam lemak tidak jenuh, diikuti oleh degradasi karena hidrolisis.
Hidrolisis merupakan proses peruaian ( lysis ) yang terjadi karena air ( hydro ). Peristiwa tersebut di percepat oleh enzim yamg termasuk golongan lipase, perlkuan panas dan aksi dari senyawa kimia. Dalam kondisi yang cocok, hidrolisis trigliserida dihasilkan asam lemak dan gliserol
C3H5 ( COOCR ) 3 + 3 H2O    →  C3H5 ( OH ) 3  +  3 HOOCR
Trigliserida               air                   gliserol               asam lemak bebas

Proses oksidasi minyak merupakan proses perubahan minyak karena oksigen.Proses tersebut dipercepat oleh enzim teritama enzim lipoksidase, oleh logam dan garamnyaatau orgnik komplek. Oksidasi minyak dapat dibedakan menjadi oksidasi yang dikatalisis oleh enzim lipoksigenase dan autooksidasi.Enzim lipoksigenase hanya menyerang ikatan 1,4 pentadiena. Asam lemk yang diserang oleh enzim tersebut misalnya asam linoleat, asam linolenat dan asam arakidat. Autooksidasi merupakan reaksi antara oksigen dan asam lemak tak jenuh. Proses oksidasi jenis ini disebut autooksidasi karena reaksi makin dipercepat oleh hasil reaksi itu sendiri.
Autooksidasi sangat dipengaruhi oleh besarnya derajat ketidakjenuhan asam lemak penyususn minyak. Reaksi oksidasi ini dapat dipercepat oleh beberapa faktor, dintaranya suhu, sinar ultra violet, radiasi ion sinar α, β, γ dan sinar X , peroksida, katalisatorlogam seperti Cu dn Fe serta garamnya.

Faktor Penentu Mutu Minyak
Mutu minyak makan ditentukan oleh beberapa sifat atau faktor yang disebut faktor penentu mutu. Sifat tersebut menurut Standar Industri Indonesia yang ditetapkn oleh Departemen Perindustrian Republik Indonesia meliputi kadar air, kadar asam bebas, bilangan yodium, bilangan penyabunan, bilangan peroksida, kotoran, warna dan bau, minyak pelikan.

1. Kadar Air
Miunyak kasar hasil ekstrasi maupun minyak yang telah dimurnikan selalu mengandung air. Air dalam minyak sangat berpengaruh terhadap daya simpan minyak. Semakin banyak air yang terkandung minyak tersebut semakin mudh rusak. Pada mnyak kasar air dan kotoran merupakan medium yang bak bagi mikroorganisme yang dapat merusak minyak.
Kadar air dalam minyak dapat ditentukan dengn 2 cara yaitu cara pemanasan ( gravimetri) dan cara volumetri atau destilasi.Pada cara pemanasan, minyak dipanaskan untuk menguapkan air. Pengurangan berat minyak sebelum dan sesudah dipanaskan merupakan jumlah air yang telah dapt diuapkan. Apabila pada pemenasan berikutnya sudah tidak ada pengurangan berat lagi berarti yang terdapat dalam minyak dianggap sudah habis. Sehingga pengurangan berat tersebut menggambarkan jumlah air yang terdapat dalam minyak.

Pada cara destilasi minyak dicampur dengan pelarut toluena atau xylena, dlam alat destilasi kemudian dipanaskan sampai titik didih pelarut. Up yang terbentuk didinginkn dalam unit destilasitrebut kemudian ditampung dalam penampung berskala.Pelarut yang digunaka mempunyai titik didih yang lebih tinggi daripada air dan mempunyai berat jenis lebih rendah daripada air serta tidak bercampur dengan air.Apabila pelarut tersebut sudah mendidih berarti air dalam minyak sudah menguap semua. Air yang menguap adalah air dalam minyak.Jumlah air dapat dilihat dari skala dalam penampung. Kadar air dapat dibaca pada skala karena air akan terletak dibawah sedang pelarut diatas.

Cara uji kadar air seperti pada Standar Industri Indonesia adalah sebagai berikut :
1.Sebuah botol timbang diisi 10 – 15 g pasir laut halus dan murni atau serbuk asbes, berikut sebuah pengaduk pendek.
2.Botol timbang beserta isinya dikeringkan selama 1 jam pada suhu 105 oC lalu didinginkan dan ditimbang.
3.Kedalam botol timbang trsebut dimasukkan 5 gram sampel dan diaduk hingga homogen.
4.Kemudian dikeringakan  pada suhu 105 oC selama 15 menit didinginkan dan ditimbang hingga bobot konstan.

2. Kadar Asam Lemak Bebas
Asam lemak bebas dalam minyak tidak dikehendaki, karena degradasi senyawa tersebut lebih lanjut menghasilkan produk yang berpengaruh terhadap rasa dan bau yang tidak disukai dalam minyak. Makin besar kadar asam lemak bebas dalam minyak maka kualitasnya semakin rendah.Minyak yang ban6yak mengandung asam lemak bebas tidak tahan disimpan lama. Banyaknya asam lemak bebas yang dikandung minyak dapat ditentukan berdasarkan jumlah basa yang diperlukan untuk menetralkan minyak. Besar kandungan asam lemak bebas dapat dinyatakan dalam persen asam lemak bebas atau dalam bentuk angka asam.

Cara uji kadar asam lemak bebas yang dihitung berdasarkan  asam laurat adalah sebagai berikut :
Timbang 10 g sampel dalam erlenmeyer.
Tambah 50 ml campuran alkohol – benzol ( 1:1 ) netral.
Titrasi dengan NaOH 0,1 N standar dengan indikator pp.
Titrasi sampai warna merah muda tidak hilang selama 1 menit.
Asam Lemak Bebas    =   ml  x  N  x  0,205  x 100
( sbg asam laurat )             —————————-
gram sampel

3. Bilangan Penyabunan
Bilangan penyabunan adalah bilangan yang menujukkan jumlah miligram KOH yang
Diprlukan untuk menyabunkan 1 gram lemak / minyak. Minyak dengan berat molekul rendah, mempunyai bilangan penyabunan yang lebih besar daripada yang mempunyai rantai karbon panjang dengan berat molekul tingi.
Angka penyabunan dapat ditentukan berdasarkan jumlah KOH yang diperlukan untuk menyabunkan asam lemak bebas, dan asam lemak yang masih terikat dalam bentuk trigliserida, dalam 1 gram minyak. Minyak ditambah larutan basa berlebihan, kemudian kelebihan basa dititrasi dengan asam. Selisih antara basa yang ditambahkan pada minyak dengan basa yang tertisa adalah merupakan basa yang diperlukan untuk penyabunan.

3. Bilangan Penyabunan
Bilangan penyabunan adalah bilangan yang menujukkan jumlah miligram KOH yang
Diprlukan untuk menyabunkan 1 gram lemak / minyak. Minyak dengan berat molekul rendah, mempunyai bilangan penyabunan yang lebih besar daripada yang mempunyai rantai karbon panjang dengan berat molekul tingi.
Angka penyabunan dapat ditentukan berdasarkan jumlah KOH yang diperlukan untuk menyabunkan asam lemak bebas, dan asam lemak yang masih terikat dalam bentuk trigliserida, dalam 1 gram minyak. Minyak ditambah larutan basa berlebihan, kemudian kelebihan basa dititrasi dengan asam. Selisih antara basa yang ditambahkan pada minyak dengan basa yang tertisa adalah merupakan basa yang diperlukan untuk penyabunan.

Cara uji bilangan penyabunan menurut Standard Industri Indonesia adalah sebagai berikut :
± 2 g contoh ditimbang ke dalam Erlenmeyer 500 ml.Tambahkan 25 ml alkohol-KOH 0,5 N (50 g KOH dilarutkan dengan 25 ml air dan diencerkan dengan alkohol 95 % hingga 1 liter).
Lalu Erlenmeyer dihubungkan dengan pendingin udara (pendingin tegak) dan didihkan atas penangas air selama ½ jam.
Kemudian didinginkan dan dititar dengan HCL 0,5 N dan p.p. sebagai penunjuk (misalnya diperlukan a ml).
Blanko (tanpa contoh) dikerjakan juga seperti tersebut di atas (misalnya diperlukan b ml HCL 0,5 N).
Bilangan penyabunan = (b – a) ml x N x 56,1
g contoh

4. Bilangan Yodium
Bilangan yodium adalah jumlah gram yodium atau komponen yodium yang diabsorbsi oleh 100 g minyak.Yodium akan bereaksi dengan ikatan rangkap pada asam lemak tidak jenuh.Oleh karena itu angka yodium ini digunakan untuk menunjukkan derajat ketidakjenuhan asam lemak penyusun minyak.
Angka yodium dapat ditentukan dengan melarutkan minyak dalam kloroform atau karbon tetraklorida dan ditambah halogen berlebihan.Kelebihan halogen kemudian dititrasi dengan larutan tiosianat, sehingga jumlah yodium/halogen yang bereaksi dapat dihitung.

Cara uji bilangan yodium menurut Standard Industri Indonesia adalah sebagai berikut :
0,5 g contoh ditimbang ke dalam sebuah Erlenmeyer 300 ml bertutup basah dan dilarutkan dengan 15 ml tetra.Dengan pipet 25 ml (jangan isap dengan mulut) tambahkan 25 ml larutan WIJS dan disimpan selama ½ jam dalam tempat/ruangan gelap.Larutan WIJS dibuat sebagai berikut : 15 g jod dilarutkan dalam 1 liter asam acetat pekat (99 %) dan dialiri gas chlor (tidak boleh berlebihan), hingga sejumlah chlor yang terikat  setara dengan jod, yaitu diperlukan 3,6 g chlor.Untuk mengetahui apakah jumlah tersebut sudah cukup, Erlenmeyer berisi larutan asam asetat ditimbang sebelum dan sesudah dialiri gas chlor atau cara lain ialah dengan memperhatikan perubahan warna dari coklat tua menjadi coklat kekuning-kuningan.Larutan Wijs dimasukkan dalam botol berwarna dan disimpan dalam tempat gelap.Lrutan Wijs tidak boleh dipakai lebih dari 1 bulan.

Sesudah penambahan larutan Wijs tersebut di atas (dan disimpan selama ½ jam) lalu ditambah 10 ml KJ 30 % dan 10 ml air Erlenmeyer segera ditutup.Akhirnya dititar dengan tio 0,1 N dan sebagai penunjuk dipergunakan larutan kanji (misalnya diperlukan larutan a ml tio 0,1 N).Blanko (tanpa contoh) dikerjakan seperti tersebut di atas (misalnya diperlukan b ml tio 0,1 N)
Bilangan jod = (b-a)ml x titar tio x 0,1269
g contoh

5. Kadar Kotoran (bahan asing)
Kotoran atau bahan asing dalam minyak pada umumnya ditentukan dengan kadar air, kadar bahan yang tidak larut, dan bahan yang tidak tersabunkan.Gabungan dari bahan tersebut disingkat dengan M.I.U., yaitu kependekan dari ”Moisture, Insaluble, Unsaponifiable”.Kotoran dalam minyak dapat mempercepat kerusakan minyak, oleh karena itu diusahakan agar minyak tidak mengandung kotoran.Minyak yang mengandung kotoran makin banyak, dianggap mempunyai kualitas yang makin tidak baik.

Menurut Standard Industri Indonesia, yang dimaksud kotoran dalam minyak adalah bahan yang tidak larut dalam pelarut minyak petroleum ether.Cara uji kotoran adalah sebagai berikut :
Sebuah kertas saring bulat (Whatman No.40,41 atau 42) dikeringkan pada suhu 105ºC, didinginkan selama 15 menit dan ditimbang.
Ke dalam sebuah Erlemeyer 300 ml ditimbang ±20 g contoh dan dilarutkan dengan petroleum-ether.Kemudian disaring dengan kertas saring yang telah ditimbang tersebut di atas.Lalu dicuci dengan petroleum-ether hingga saringan bebas dari minyak (bila di kertas saring dengan isinya) dikeringkan pada suhu 105ºC selama 1 jam, didinginkan selama 30 menit dan ditimbang hingga bobotnya tetap.
Kadar kotoran = Penambah berat x 100%
g contoh

6. Bilangan Peroksida
Peroksida merupakan senyawa antara dalam rangkaian proses ketengikan minyak oleh peristiwa oksidasi.Bilangan peroksida adalah bilangan yang menggambarkan jumlah oksigen dalam miliekuivalen yang terdapat dalam 100 g minyak.Senyawa peroksida bukan senyawa yang berbau ”tengik”.Apabila jumlah senyawa peroksida dalam minyak makin banyak menunjukkan minyak tersebut akan cepat menjadi tengik atau ”rancid”.Dengan demikian peroksida tidak dikehendaki dalam minyak, atau kalau senyawa tersebut terdapat dalam minyak jumlahnya perlu dibatasi.Bilangan peroksida dapat ditentukan dengan beberapa cara, di antaranya adalah dengan cara Titrasi-Yodometri; Polarometri dan Spektrofotometri,

Cara uji senyawa peroksida dalam minyak, menurut Standard Industri Indonesia, adalah sebagai berikut:
± 5 g contoh ditimbang dalam Erlenmeyer 300 ml bertutup basah.Lalu ditambahkan 30 ml larutan dari suatu campuran terdiri dari 20 ml asam asetat pekat, 25 ml alkohol 95% dan 55 ml chloroform.Kemudian ditambahkan 1 g KJ dan dibiarkan di tempat gelap selama ½ jam sambil dicampur benar-benar.Akhirnya ditambah 50 ml air dan dititar (pakai mikroburet) dengan tio 0,002 N sebagai penunjuk dipergunakan larutan kanji (misalnya diperlukan a ml).Blanko (tanpa contoh) dikerjakan juga seperti tersebut di atas (mislanya diperlukan b ml tio 0,002 N).
Bilangan peroksida =(a-b) x N x 8 x 100
g contoh

7. Warna dan Bau Minyak
Trigliserida merupakan senyawa yang tidak berwarna dan tidak berbau.Oleh karena itu minyak murni seharusnya juga tidak berwarna dan tidak berbau.Akan tetapi di dalam praktek sering didapatkan minyak murni tersebut berwarna ke arah kuning atau ke arah merah jingga, dan masih berbau khas sesuai dengan bau sumber minyak tersebut.Hal ini mungkin disebabkan karena pertimbangan ekonomis, atau karena kehendak konsumen.

8. Minyak Pelikan
Minyak pelikan dalam minyak makan tidak dikehendaki, karena kecuali dianggap pemalsuan juga berpengaruh terhadap penyimpangan sifat minyak makan yang sebenarnya.
Cara uji untuk menentukan apakah minyak makan mengandung minyak pelikan atau tidak, menurut Standard Industri Indonesia dapat dilakukan sebagai berikut :
Sedikit (1 ml) contoh ditambah alkohol-KOH 0,5 N 5 ml dan dipanaskan.Kemudian ditambah air, jika larutan menjadi keruh menunjukkan adanya minyak pelikan.Selanjutnya kadar minyak pelikan dihitung dari sisa yang tak tersabun.
PENETAPAN KADAR LEMAK
METODE
●  Soxhletasi
DASAR TEORI
∞  Lemak dan minyak merupakan salah satu kelompok yang termasuk golongan lipida.Satu sifat yang khas     golongan lipida adalah daya pelarut organic.Misalnya: eter, benzene, chloroform.


IV. ALAT DAN BAHAN
Alat: – Soxhlet
- Corong kaca
- Labu alas bulat
- Lampu spirtus
- Statip + klem
Bahan: – Sample (margarine)
- Kertas saring dan tali
- Pelarut = CHCl3 : methanol
2    :     1


PROSEDUR
▪  Timbang kurang lebih 5 gr sample dengan kaca arloji.
▪  Timbang kertas saring dan tali, bungkus sample dengan kertas saring dan ikat.Masukkan dalam soxhlet.
▪  Tambahkan pelarut 1,5 -2 kali volume soxhlet.
▪  Pasang alat sedemikian rupa.Panaskan dengan lampu spirtus/kompor listrik.Tunggu sampai beberapa sirkulasi sample sampai semua lemak habis terekstraksi.
▪  L.A.B → dilepas, sisa pelarut diuapkan → timbang sampai bobot konstan.

STANDAR MUTU MINYAK
Standar mutu berbagai minyak makan dalam perdagangan yang telah ditetapkan oleh Departemen Perindustrian Republik Indonesia, dalam bentuk Standar Industri Indonesia, di antaranya adalah untuk minyak kelapa, miyak sawit dan minyak goreng.
1. Mutu Minyak Kelapa
Minyak kelapa yang dimaksud adalah minyak yang diperoleh dengan cara pengempaan kopra atau hasil ekstraksi bungkil kopra.
Syarat mutu minyak kelapa meliputi :
3.1. Air………………………………………………………………  maks. 0,5%
3.2. Kotoran……………………………………………………….  maks. 0,05%
3.3. Bilangan jod (g jod/100 g contoh)…………………..  8-10,0
3.4. Bilangan penyabunan (mg KOH/g contoh)………  255-265
3.5. Bilangan peroksida (mg KOH/g contoh)………….  maks. 5,0
3.6. Asam lemak bebas (dihitung sebagai asam
laurat)………………………………………………………….  maks.5%
3.7. Warna, bau…………………………………………………..  normal
3.8. Minyak pelikan…………………………………………….  negatif
3.9. Untuk industri makanan tidak boleh mengandung
logam-logam berbahaya dan arsen.

2. Mutu Minyak Kelapa Sawit
Minyak kelapa sawit adalah minyak yang diperoleh dari ekstraksi sabut buah kelapa sawit.
Syarat mutu minyak kelapa sawit adalah meliputi :
1.Air……………………………………………….maks.0,5%
2.Kotoran…………………………………………maks. 0,5
3.Bilangan jod (g jod/100 g contoh)…….44-58
4.Bilangan penyabunan (mg KOH/contoh)..195-205
5.Bilangan peroksida (mg oksigen/100 gcontoh) ………………………….maks. 3,0
6.Asam lemak bebas (dihitung)………….maks.5%
7.Warna…………………………………………………….Normal
8.Bau………………………………………………………..Normal
9.Minyak pelikan………………………………………..negatif

3. Mutu Minyak Goreng
Minyak goreng yang dimaksud adalah minyak nabati yang telah dimurnikan, digunakan sebagai bahan makanan.
Syarat mutu minyak goreng adalah sebagai berikut :
Air…………………………………………  maks. 0,3%
Bilangan peroksida…………………..maks. 1,0 mg oksigen/100 g
Asam lemak bebas (sebagai asam laurat)………… maks. 0,3%
Logam-logam berbahaya (Pb,Cu,Hg,dan As)………….  negatif
Minyak pelikan……………………………………………………  negatif
Keadaan (bau, warna, rasa)……………………………………  Normal

Protein

Protein adalah sumber asam – asam amino yang mengandung unsur C, H, O, N ( Fe, Mn, Cu, S, P).
Fungsi protein dalam tubuh :
1. Zat pembangun
2. Zat pengatur
ASAM AMINO
Bila suatu protein dihidrolisa dengan asam, atau enzim akan dihasilkan campuran asam – asam amino.
H                 H                 O
\    |      ∥
N   —      C        —   C
/                |                   \
H                 R               OH

Asam amino dalam kondisi netral pH isolistrik berada dalam kondisi ion dipolar atau zwitter ion pada pH rendah gugus karboksil tidak terdisosiasi sedangkan gugus amino berada dalam bentuk ion sebaliknya pada pH tinggi.
Untuk membentuk protein asam –asam amino dihubungkan dengan ikatan peptida
Asam amino esensial
Asam amino esensial adalah asam amino yang tidak dapat diproduksi dalam tubuh dengan cukup cepat untuk mendukung pertumbuhan normal, misal : arginin, histidin, isoleusin, leusin, lisin, metionin, fenilalanin, threoin, triptofan,valin
Asam amino nonesensial adalah asam amino yang dapat diproduksi cukup dalam tubuh : alanin, asam aspartat, sitrolin, sistein, asam glutamat.
Sifat – sifat Protein
1.Tidak larut dalam air
2.Dapat dihidrolisa dengan asam, basa, dan enzim
3.Mempunyai 2 macam bentuk : serabut ( fibriler) dan bola ( globuler)
4.Bersifat amfoter
5.Dapat diendapkan oleh ion logam berat, asam mineral kuat, garam – garam logam berat
6.Bisa mengalami denaturasi
ANALISA PROTEIN
METODE KJELDAHL
Prinsip : Penentuan protein berdasarkan jumlah nitrogen dalam bahan.
1.Tahap Destruksi
Pada tahap ini bahan dipanaskan dalam asam sulfat pekat dengan penambahan katalisator : K2SO4,Na2SO4 ( menaikkan titik didih). Cu,Se,Hg ( sebagai oksidator).
Pada tahap ini akan dihasilkan (NH4)2 SO4
2. Tahap Destilasi
Pada tahap ini (NH4)2 SO4 dipecah menjadi amonia ( NH3) dengan penambahan NaOH sampai alkalis dan dipanaskan.Amonia yang dibebaskan selanjutnya ditangkap dengan asam standar ( HCl atau H3BO3).
(NH4)2 SO4  +  NaOH → NH3 + H2O +Na2SO4
3. Tahap titrasi
Bila menggunakan asam penangkap HCl maka titran NaOH dan indikatornya pp.Reaksinya :              NH3 + HCl → NH4Cl
% N = [(Vb-Vs) x N NaOH x 14 x 100 %]
mg sampel
% Protein = % N x Faktor konversi


Bila menggunakan asam penangkap asam borat ( H3BO3) titrannya HCl sedangkan indikator MR.Reaksi :
NH4OH + H3BO3 → (NH4)3BO4 + H2O
% N = [(Vs-Vb) x N NaOH x 14 x 100 %]
mg sampel
% Protein = % N x Faktor konversi

Karbohidrat

Karbohidrat merupakan sumber kalori utama terutama untuk negara – negara berkembang. 1 gram karbohidrat menghasilkan 4 kkal.
Fungsi karbohidrat
1.Sumber energi
2.Sumber serat
3.Penentu karakteristik bahan pangan
4.Mencegah pemecahan protein yang berlebihan
5.Mencegah kehilangan mineral
6.Membantu metabolisme lemak dan protein
Pembentukan karbohidrat secara alami
1.Merupakan hasil proses fotosintesis
CO2  + H2O     →     C6H12O6  + O2
2. Secara sintesis kimia misalnya pembuatan sirup formosa yaitu dengan menambahkan larutan alkali encer pada formaldehide
3. Mengekstrak dari bahan – bahan nabati sumber karbohidrat
Karbohidrat Dalam Bahan Pangan
1.Pada tumbuhan : pati, pektin, selulosa
2.Pada buah – buahan : glukosa dan fruktosa
3.Pada hewan : glikogen
4.Pada susu : laktosa
Jenis – Jenis Karbohidrat
1.Monosakarida
A. Tata nama monosakarida berdasarkan gugus fungsional yang dimiliki dan letak gugus hidroksilnya.
Misal : Aldosa : mengandung satu gugus aldehid
Ketosa : mengandung satu gugus keton
Heksosa : Mempunyai 6 atom C
Pentosa : Mempunyai 5 atom C ( xylosa,arabinosa)
Fischer projection formula (dekstro – levo)


OLIGOSAKARIDA
Oligosakarida adalah polimer monosakarida yang terdri dari 2 – 10 molekul.Yang terdiri dari 2 molekul disebut disakarida, contoh:
1.Sukrosa : glukosa dan fruktosa
2.Laktosa : glukosa dan galaktosa
3.Maltosa : glukosa dan glukosa
Ikatan yang menghuhungkan dua molekul monosakarida disebut ikatan glikosidik.
Haworth projection
Pembentukan cincin
MALTOSA
LAKTOSA
SUKROSA

Ada tidaknya sifat mereduksi suatu molekul gula ditentukan oleh ada tidaknya gugus hidroksil bebas yang reaktif.
1.Pada Aldosa (glukosa / dekstrosa) gugus OH pada atom C-1 ( anomerik)
2.Pada ketosa (fruktosa / levulosa) gugus OH pada atom C-2

POLISAKARIDA
1.Fungsi :
a. penguat tekstur : selulosa, hemiselulosa, lignin, pektin
b. Sumber energi : pati, dekstrin, glikogen, fruktan


PATI (AMILUM)
Merupakan homopolimer glukosa dengan ikatan a-glikosidik. Terdiri dari 2 fraksi yang dapat dipisahkan dengan air panas.
Fraksi terlarut disebut amilosa yang mempunyai struktur lurus dengan ikatan a-(1,4) –D- glukosa.
Fraksi tak terlarut disebut amilopektin mempunyai struktur cabang dengan ikatan a-(1,4) –D- glukosa 4 – 5 % dari berat total.

SELULOSA
Merupakan serat – serat panjang yang membentuk struktur jaringan pada dinding sel tanaman berantai lurus demgan ikatana-(1,4) –D- glukosa.Turunan selulosa dikenal sebagai CMC yang dipakai sebagai BTM dengan fungsi sebagai penghalus tekstur dan mencegah retrogradasi.Pembuatan CMC dengan mereaksikan selulosa murni dengan NaOH kemudian ditambah Na-Klorasetat.

ANALISA KARBOHIDRAT
A.Analisa Kualitatif
1.Uji Molish dengan prinsip karbohidrat direaksikan dengan a- naftol dalam alkohol kemudian ditambah dengan asam sulfat pekat melalui dinding tabung ,(+) bila terbentuk cincin ungu.
2.Uji Barfoed
Pereaksi terdiri dari Cu-asetat dan asam asetat. Sampel ditambah pereksi kemudian dipanaskan,endapan merah bata menunjukkan + monosakarida

3. Uji Benedict
Pereaksi terdiri dari Cu-sulfat, Na-sitrat dan Na-karbonat.Sampel ditambah pereaksi dan dipanaskan adanya endapan menunjukkan adanya gula reduksi.
4. Uji Iodin
Larutan sampel diasamkan dengan HCl kemudian ditambah iodin dalam larutan KI.Warna biru berati (+) adanya pati kalau warna merah (+) glikogen.


5. Uji Seliwanoff
Pereaksi 3.5 ml resocsinol 0,5 % dengan 12 ml HCl pekat diencerkan 3,5 ml dengan aquades setelah sampel ditambah pereaksi dipanaskan. Warna merah cerri menunjukkan + adanya fruktosa.
PENETAPAN KADAR KARBOHIDRAT
Cara Luff Schoorl
Prinsip :
R-OH  + CuO  ® Cu2O +R-COOH
H2SO4 + CuO ®  CuSO4  +  H2O
CuSO4 + 2KI  ®   CuI2  +  K2SO4
2CuI2             ®  Cu2I2  + I2
I2 + Na2S2O3 ® Na2S4O6  + NaI
I2  + amilum    ® warna biru

PENETAPAN KADAR GULA REDUKSI
Prinsip: Monosakarida dioksidasi oleh CuO dari reagen Luff Schoorl kemudian kelebihan CuO bereaksi dengan KI dalam suasana asam membentuk I2 yang akan bereaksi dengan Na-tiosulfat dimana indikator amilum berubah dari biru menjadi tidak berwarna.
Prosedur kerja PK gula reduksi
1. Timbang bahan 2,5-5 g masukkan labu takar 100 ml.
2. Tambah aquades sampai tanda dan larutkan.
3. Pipet 10 ml masukkan erlenmeyer
4.tambahkan reagen luff schoorl dan panaskan diatas WB yang sudah mendidih.
5. Tambahkan 15 ml KI 20% dan 25 ml H2SO4 4N ( awas hati-hati!).
6.Titrasi dengan Na-Thiosulfat 0,1 N standar sampai warna kuning muda, tambah amilum 1% 1ml, lanjutkan titrasi sampai warna biru hilang.
7.Lakukan blanko
Penetapan Kadar Gula Total
Metode : Iodometri
1.Timbang dengan seksama 5 g bahan masukkan labu takar 100 ml.
2.Tambahkan aqudes sampai tanda dan larutkan.
3.Pipet 25 ml sampel masukkan erlenmeyer 250 ml tambahkan 25 ml HCl 30% panaskan WB selama 30 menit.
4.Dinginkan dan netralkan dengan NaOH 30% cek dengan indikator.
5.Masukkan labu takar 250 ml tambah aquades hingga tanda dan pipet 10 ml, selanjutnya kerjakan seperti gula reduksi.
Penetapan Kadar Laktosa
1.Timbang bahan 5 g dengan seksama dan tambah aqudes panas sampai susu larut.
2.Pindahkan ke labu takar 100 ml secara kuantitatif dan tambahkan 5 ml Pb-asetat 10% dan 5 ml Ba(OH)2 10% dan tepatkan sampai tanda.
3.Saring sampai didapat filtrat jernih, kemudian pipet 10 ml masukkan erlenmeyer. Selanjutnya lihat penetapan kadar gula reduksi.
Penghitungan Kadar Gula
Misal dari suatu praktikum didapatkan hasil sbb :
1.Berat bahan 5 gram
2.Dimasukkan labu takar 100 ml dipipet 5 ml ditepatkan labu takar 100 ml kemudian dipipet 25 ml.
3.Kadar larutan Na-tiosulfat = 0,0935 N
4.Titrasi sampel = 21,71 ml
5.Titrasi blanko = 31,95 ml

9.Na-Tiosulfat pada tabel kadarnya 0,1 N sehingga 10,24 ml Na-tiosulfat yang kadarnya 0,0935 N berubah menjadi 10,24 x  0,0935/0,1  = 9,574 ml.
10. Tabel hanya berisi angka bulat sehingga angka 9,574 dilihat pada baris 9 dan 10.
9 ml ——–  22,4 mg
10 ml ——- 25,0 mg
11. Mencari kesetaraan pada 9,574 ml
= 22,4 mg + {( 9,574 – 9 ) / ( 10 –9)}  x ( 25 –22,4) = 23,9924 mg


Menghitung kadar gula reduksi:
= fp I x fp II x kesetaraan / mg bahan x 100%.
= 100/5 x 100/25 x 23,9924/5000 x 100%
= … %

Pengantar Analisa Makanan dan Minuman

Definisi : Analisa adalah usaha pemisahan suatu kesatuan materi bahan menjadi komponen-komponen penyusunnya atau penguraian bahan menjadi senyawa –senyawa penyusunnya sehingga dapat dipakai sebagai data untuk menentukan komposisi bahan.
Hal-hal yang penting untung dipertimbangkan dalam pemilihan prosedur
1. Pengetahuan dasar komposisi suatu bahan yang akan dianalisa
2. Tingkat ketelitian yang dikehendaki.
3. Sampel yang tersedia.
Syarat prosedur analisa yang ideal
1.Sahih atau valid
2.Akurat( accuracy)
3.Presisi atau cermat ( Precission)
4.Cepat
5.Hemat
6.Tingkat keselamatan tinggi ( safety)
7.Keterulangan (Reproducibility)
8.(khusus) Specific
9.Dapat  diandalkan (Reliable)
10.Mantab (Stable)
Tujuan Analisa Makanan dan Minuman
1.Menguraikan komponen – komponen suatu bahan makanan kemudian memastikan jenis atau jumlahnya sehingga dapat disusun komposisi keseluruhan bahan tersebut.
2.Menentukan adanya suatu komponen bahan makanan – minuman kemudian memastikan berapa kadarnya sehingga dapat ditentukan kualitas ( sesuai dengan UU ).
3.Menentukan komponen bahan atau nutrien yang terkandung sehingga dapat dipakai patokan menyusun menu sehari-hari untuk diet khusus. 
4. Menentukan ada tidaknya bahan ikutan atau BTM.
5.Mendeteksi adanya bahan metabolit yang beracun.
6. Mengikuti terjadinya perubahan – perubahan bahan yang terjadi baik kualitatif maupun kuantitatif selama proses berlangsung (procces control )

Kerusakan Pada Sampel Yang Mungkin Terjadi
1.Perubahan kimiawi ( oksidasi)
2.Perubahan enzimatis
3.Kontaminasi mikrobiologis
4.Perubahan Fisis
5.Perubahan Mekanis

Pengantar Media dan Reagensia

Media adalah suatu campuran bahan yang mengandung nutrisi untuk pembiakan/pertumbuhan, mempertahankan dan menyeleksi bakteri yang dibiakkan secara invitro (diluar tubuh) sehingga dapat diketahui jenis bakterinya. Media sebagai sumber makanan bagi bakteri maka disana banyak sekali bahan-bahan atau komponen bahan yang ditambahkan dalam media, berikut ini mari kita mempelajari tentang media.

 * Media berisi bahan-bahan yang berdasarkan fungsinya dapat dibagi menjadi : 
1. Nutrisi Berisi protein, peptida, asam amino. Komponen protein yang diperlukan mikroorganisme adalah pepton, tergantung kebutuhannnya dapat berupa meat pepton ataupun non meat pepton (casein atau soya pepton) ataupun campuran dari keduanya.
2. Energi Bahan yang digunakan adalah karbohidrat yang paling banyak digunakan adalah glukose, laktose, manose, sukrose, dan maltose.
3. Logam dan Mineral Dapat dibagi menjadi 2 yaitu : - Makro komponen : Na, K, Cl, Ca, Mg, Fe - Mikro Komponen : Zn, Mn, Bi. Logam dan mineral terkandung didalam pepton, buffer dan agar, sehingga seringkali tidak tercantum dalam resep.
4. Buffer Untuk pertumbuhan mikroorganisme tertentu dibutuhkan pH medium yang optimal. Contoh : Phosphat, Citrat, Acetat, dan Asam amino spesifik
5. Indikator. Penambahan indicator merupakan cara efektif untuk mendeteksi fermentasi karbohidrat spesifik.
 6. Bahan Selektive Bahan selective dapat berupa bahan kimia atau anti biotika ditambahkan pada media bertujuan untuk menekan pertumbuhan mikroorganisme yang tidak diinginkan sehingga hanya mikroorganisme yang diinginkan tumbuh.
7. Gelling Agent Adalah agar untuk media diproses sehingga dihasilkan agar yang toksisitasnya rendah, jernih, kandungan mineralnya rendah dan kemampuan difusinya tinggi. 8. 8. Komponen lain Misalnya darah untuk mendeteksi adanya enzim hemolitik. >>

 MACAM-MACAM MEDIA

A. Menurut bentuk media ada 2 macam :
    1. Media racik atau buatan sendiri, Adalah dengan cara meracik dengan buatan sesuai dengan resep  yang sudah ada biasanya komponen yang ditambahkan dari beberapa macam.
    2. Media jadi atau Rehidrate, Adalah bahan jadi yang sudah dibuat oleh perusahaan atau pabrik besar. Sifatnya hygroskopis, (peka terhadap kelembapan, panas dan cahaya) cara pembuatannya tanpa dilakukan peracikan bahan lagi, hanya satu bahan saja.

 B. Menurut struktur media ada 3 macam :
   1. Padat adalah agar-agar atau bahan lain misalnya telur atau serum.
   2. Semi Solid Media yang berbentuk setengah padat dan setengah cair atau dengan kata lain nilai kepadaatannya kecil atau cairan sedikit mengental.
   3. Cair Media yang berbentuk cair atau sering kita namakan dengan broth, yang biasanya juga berisi nutrisi untuk pertumbuhan bakteri.

C. Media berdasarkan fungsinya
    1. Media dasar atau media sederhana adalah Media yang secara rutin selalu tersedia di laboratoriom karena bahan dasar yang sangat disukai oleh bakteri. Contohnya: Nutrien Agar , Nutrien Broth, Infution Broth , dll.
    2. Media Transport Adalah media yang digunakan untuk pengiriman specimen dari suatu tempat ketempat laboratrium pemeriksaan , yang berisi nutrisi dan berfungsi untuk mempertahankan kehidupan bakteri , biasanya untuk pengiriman bahan pemeriksaan bakteriologii yang menggunakan swab. Contoh : Amies Transport Media , Cary & Blair Medium, dll.
   3. Media pemupuk atau media Enrichment/ Media yang diperkaya Adalah media yang berbentuk cair yang digunakan berisi bahan kimia yang dapat menghambat beberapa flora normal dan memungkinkan pertumbuhan bakteri pathogen yang mungkin terdapat dalam jumlah kecil dalam specimen , sehingga bakteri mudah tumbuh dengan baik dan di perbanyak . Contoh : NaCl Broth, Pepton Alkalis 1%, Selenite Broth, Bouillon Broth, BHIB, dll.
   4. Media Differential Adalah media yang mempuyai beberapa kandungan kimiawi yang memberikan ciri khusus pada bakteri yang berbeda melalui penampilan / gambaran koloni yang berbeda dengan kultur. Contoh : Mac Conkey, EMB, Cled, KIA, dll.
   5. Media selective Adalah media yang secara selective menumbuhkan bakteri komensal dengan membedakan warna dan kekeruhan koloni. Contoh : TCBS agar, XLD agar , SS agar, dll.
   6. Media Enriched Adalah media yang mengandung bahan penambahan pertumbuhan guna meningkatkan kualitas media. Organisme tertentu tidak dapat tumbuh dalam nutrient media umum, mereka menambahkan darah, serum, telur, glucose, dll. Contoh : Agar darah, Livental agar, Loffler    serum, dll.
   7. Media untuk reaksi biokimia Adalah media yang digunakan untuk identifikasi kuman berdasarkan sifat-sifat biokimia dari masing-masing kuman.
  • Glukose,lactose,manose,sucrose,maltones,dll : Dektesi fermentasi oleh kuman 
  • Indol reaksi : Dektesi produksi indol dari kuman golongan Enterrobakteriaceace
  • Methyl red : Test Methyl Red 
  • Voges Proskeur :  Membedekan E. coli dengan enrerobacter aerogenes
  • Simon Citrat agar : Membedakan golongan Enterobacteriaceace berdasarkan penggunaan citrat sebagai sumber carbon.
  •  Urea agar : Dektesi rapid Urease activitic pada golongan proteus dan non rapit Ureuase activity pada golongan enterobacteraceace
  • Sim medium : Membedakan golongan kuman enteric berdasarkan produksi sulfide, indol dan motilitas (gerak kuman). 
  • 8 Lysine dekarboxylase : Deteksi produksi lysine dekarboxylase pada golongan enterobacter 
    8. Media Test kepekaan Media yang digunakan untuk test kepekaan, jadi sesudah bakteri ditanam secara merata dipermukaan media kemudian diletakkan antibiotic disk pada permukaan media itu inkubasi 24 jam kemudian diamati zona hambatannya. Contoh : - Diagnostic Sensitivity Test (DST) - Muller Hinton, Media yang digunakan untuk test kepekaan digunakan sesuai prosedur standart international.
    9. Media Perbenihan Jamur Media yang bersifat asam yang digunakan untuk isolasi jamur dan yeast Contoh : SDA ( Saboroud Dextrose Agar )
  10. Media Kultur Aerob Media yang digunakan untuk kultur anaerob atau kedap udara biasanya diletakkan dalam tabung tutup ulir. Contoh : Media Thioglycolate, Media cooked meat.

Dalam pembuatan media ada hal –hal yang perlu dilakukan dalam setiap pengerjaannya karena ini akan berhubungan dengan kwalitas dari media yang akan dipakai untuk indentifikasi bakteri yaitu :
A. Base Medium / Bahan Media Baca petunjuk pembuatan : - Lihat petunjuk resep ( jika media berupa racikan). - Lihat petunjuk label kemasan (jika media berupa Rehidrate).

B. Alat-alat Alat-alat gelas yang akan dipakai harus disesuaikan dengan media yang akan di buat: - Sesuaikan alat gelas dengan volume media yang akan dibuat. - Sesuaikan alat gelas dengan media yang akan kita buat misalnya untuk media yang berbahan dasar agar-agar gunakan Erlenmeyer dan untuk media cair atau broth gunakan beaker glass.

C. Perhitungan Hitung kebutuhan media yang akan kita timbang dengan benar agar kita dapatkan media yang baik misal: Media TCBS didalam label kemasan tertera 88 gr/1, sedangkan kita membuat 100 ml TBCS maka dpt dihitung sbb :

88 x 100 /1000 = 8,8 gr 1000.

Jadi media yang akan kita timbang adalah 8,8 gr untuk 100 ml TBCS

D. Penimbangan Gunakan alat pelindung diri misalnya masker dan sarung tangan jika menimbang karena media berbentuk serbuk mudah berhamburan dan toxic bagi pernafasan - Timbang dengan benar dan harus bebas dari angin. - Jangan membuka terlalu lama media setelah penimbangan. - Menimbang harus tepat dikarenakan mempengaruhi komposisi media tersebut.

E. Pelarutan Jangan terlalu lama dalam melarutkan media karena akan merusak komposisi protein, pH maupun karbohidrat.

F. Penetapan pH Penetapan PH bias kita lihat dalam petunjuk pembuatan media karena disana akan tertera berapa pH yang sesuai untuk media tersebut.

G. Sterilisasi - Segera setelah pH media segera ditutup dengan rapat dan segera disterilisasi dengan autoklaf - Untuk sterilisasi kita akan bahas pada bab selanjutnya.

H. Penyimpanan media jadi - Seteleh media dingin simpan sesuai dengan jenis media yang dibuat , bisa disimpan dalam almari es, suhu ruang maupun tempat gelap. - Untuk penyimpanan media ada hal –hal yang harus diperhatikan antara lain :
  • Jangan terkena sinar matahari secara langsung atau terkena panas secara langsung
  • Untuk media-media yang diperkaya dengan darah, antibiotic maupun serum harus disimpan dalam lemari es 
  • Media yang ditempatkan dicawan petri harus dijaga jangan sampai kering sebaiknya simpan didalam lemari es dan ditempatkan dalam plastik tertutup. 

  I. Kontrol Kualitas Dalam control kualitas ini media yang akan digunakan dalam indentifikasi harus dilakukan karena itu akan berpengaruh dengan kualitas media ada beberapa tahap control kualitas yang dilakukan:
  • 1. Secara Visual. Perhatikan warna dan kekeruhan secara langsung 
  • A. Bila terjadi kekeruhan dalam media cair atau terjadi perubahan warna maka bisa dipastikan media itu tidak steril atau terkontaminasi. 
  • B. Media yang dalam tabung dan berisi tabung durham jika terlihat gelembung udara dalam tabung durham maka bisa dipastikan bahwa media itu belum diseteril atau bisa juga terkontaminasi. 
  •  2. Test Sterilisasi Test sterilisasi ini sangat perlu karena suatu keharusan terutama pada media yang diperkaya dengan bahan-bahan tertentu :
    •  Ambil sebanyak 5% dari tiap batch media, inkubasi selama 2 x 24 jam dengan suhu 37oC, jika terjadi pertumbuhan lebih dari 2 koloni percawan petri maka seluruh media dalam batch pembuatan itu tidak dapat digunakan.
    • Dengan penanaman kuman control positif dan control negative 

   J. Kesalahan-kesalahan yang terjadi pada proses pembuatan media :
      1. Kwalitas aquadest yang jelek
      2. Wadah yang tercemar
      3. Terlalu panas pada proses pembuatannya
      4. Terlalu lama disimpan pada suhu 50oC 5. pH tidak sesuai
      6. Cara melarutkan tidak sempurna 
      7. Kesalahan penyimpanan media dan bahan baku

  K. Akibat dari kesalahan pembuatan media
      1. Terjadi kekeruhan atau pengendapan
      2. Warna terlalu gelap kadang-kadang media menjadi gosong
      3. Agar-agar terlalu lunak 4. Pertumbuhan kuman yang jelek atau tidak tumbuh

Pengantar Anatomi Fisiologi

Anatomi berasal dari bahasa yunani yang terdiri dari ana yang artinya memisah-misahkan atau mengurai. Dan tomos yang artinya memotong-motong, jadi anatomi berarti mengurai dan memotong. Ilmu bentuk dan susunan tubuh di peroleh dengan cara mengurai badan melalui potongan bagian-bagian dari badan dan hubungan alat tubuh satu dengan yang lainnya sedangkan fisiologi adalah ilmu yang mempelajari faal fungsi atau pekerjaan dari tiap jaringan tubuh atau bagian dai alat tubuh tersebut dan untuk mengetahui perubahan yang terjadi pada tubuh orang sakit kita harus terlebih dahulu mengetahui struktur dan fungsi tiap alat-alat dari susunan tubuh manusia yang sehat dalam kehidupan sehari-hari. Makanisme dan sifat khusus tubuh manusia hidup di luar pengendalian kita sendiri, misalnya rasa haus dan lapar yang membuat kita mencari minum dan makan, perasaan dingin membuat kita mencari kehangatan dan perlindungan. Manusia sebenarnya bergerak secara otomatis kita mempunyai perasaan, fikiran, dan pengetahuan yang merupakan suatu rangkaian kehidupan yang otomatis memungkinkan kita hidup pada berbagai keadaan. Pada manusia gugusan sel berfungsi khusus yang terdiri dari system saluran pencernaan untuk mencerna dan mengabsorpsi makanan. System pernafasan berfungsi untuk mengambil oksigen dan mengeluarkan karbon dioksida di sebut tata cara kerja pada masing-masing system berperan dalam fungsi tubuh secara keseluruhan, jadi ilmu fisiologi adalah untuk menjelaskan faktor-faktor fisik dan kimia yang bertanggung jawab terhadap asal-usul perkembangan dan kemajuan kehidupan dari virus atau bakkteri yang paling sederhana sampai manusia yang paling rumit. Sejarah... Sebelum peradaban Islam hadir, studi anatomi telah dikembangkan para ilmuwan di Yunani. Salah satu ilmuwan terkemuka yang mengembangkan studi anatomi adalah Aelius Galenus atau Claudius Galenus alias Galen (129 SM– 200/217 SM) serta Hippocrates (460 SM – 370 SM). Ketika Islam mencapai kejayaannya, studi anatomi dikembangkan para saintis Muslim. Para ilmuwan Muslim tak hanya mempelajari buku-buku yang diterjemahkan dari bahasa Yunani, namun juga mengembangkan, mengkritisi serta menemukan sesuatu yang baru dalam studi anatomi. Ilmuwan masyhur bernama Abu Bakar Muhammad ibnu Zakariya Razi atau al-Razi (865 M- 925 M) berhasil mematahkan teori humorism yang dikemukakan oleh Galen. Al-Razi merupakan dokter pertama yang menolak teori humorism Galen. Ia meragukan teori Galen itu pada abad ke-10 M. Rhazes mengkritik teori Galen yang menyatakan bahwa tubuh memiliki empat jenis "humor" (zat cair), yang menjadi kunci keseimbangan bagi kesehatan dan mengatur suhu tubuh secara. Sang dokter Muslim mematahkan teori itu lewat sebuah percobaan. Ia memasukkan suatu cairan dengan temperatur berbeda ke dalam tubuh dengan peningkatan atau penurunan panas tubuh, yang mirip dengan suhu cairan tertentu. Al-Razi mencatat bahwa minuman hangat akan meningkatkan panas tubuh ke derajat lebih tinggi dari suhu alami. Sehingga minuman akan memicu respons dari tubuh, bukan hanya mentransfer sendiri hangat atau dingin itu. Dokter Muslim legendaris lainnya melakukan percobaan dalam bidang anatomi dan fisiologi adalah Ibnu Sina (980 M - 1037 M). ''Kontribusi ibnu Sina dalam studi fisiologi adalah mengenalkan eksperimen secara sistematis yang dituangkan dalam The Canon of Medicine," papar Katharine Park dalam karyanya berjudul Avicenna in Renaissance Italy: The Canon and Medical Teaching in Italian Universities after 1500 by Nancy G Siraisi. Hal serupa juga dilakukan Ibnu al-Haitham (965 M - 1040 M). Bashar Saad dalam karyanya bertajuk "Tradition and Perspectives of Arab Herbal Medicine: A Review", Evidence-based Complementary and Alternative Medicine, menjelaskan, kontribusi al-Haitham dalam bidang anatomi dan fisiologi. Menurut Saad, sang ilmuwan Muslim terkemuka itu banyak melakukan perbaikan tentang proses persepsi penglihatan dalam Kitab Optik-nya, yang diterbitkan pada 1021 M. "Dokter Muslim melakukan inivasi dan terobosan dalam bidang fisiologi, salah satunya dengan menggunaka hewan untuk percobaan,'' imbuh Saad. Malah, menurut Emile Savage-Smith dalam karyanya bertajuk Attitudes Toward Dissection in Medieval Islam, dokter Muslim di era kejayaan Islam juga menemukan ilmu pembedahan manusia. Ibnu Zuhr atau Avenzoar (1091 M-1161 M) adalah salah seorang dokter Muslim perintis yang melakukan pembedahan manusia dan bedah mayat postmortem. Studi anatomi dan fisiologi kemudian dikembangkan oleh dokter Muslim agung bernama Ibnu Nafis (1210 M -1288 M). Ia merupakan orang pertama yang secara akurat mendeskripsikan peredaran darah dalam tubuh manusia. Tak heran, jika Ibnu Nafis dikenal sebaga bapak fisiologi sirkulasi. Prestasi dan pencapaian gemilang yang ditorehkan dalam binag fisiologi di abad ke-13 M itu telah mematahkan klaim Barat yang selama beberapa abad menyatakan bahwa Sir William Harvey dari Kent, Inggris yang hidup di abad ke-16 M, sebagai pencetus teori sirkulasi paru-paru. Adalah fisikawan berkebangsaan Mesir, Muhyo Al- Deen Altawi yang berhasil menguak kiprah Al-Nafsi lewat risalah berjudul Commentary on the Anatomy of Canon of Avicenna. Menurut Altawi, kontribusi al-Nafis dalam dunia kedokteran tak hanya di bidang fisiologi. Ia juga dikenal sebagai dokter yang menyokong kedokteran ekperimental, postmortem otopsi, serta bedah manusia. Sejarah juga mencatat Al-Nafis sebagai dokter pertama yang menjelaskan konsep metabolisme. Tak heran bila dia lalu mengembangkan aliran kedokteran Nafsian tentang sistem anatomi, fisiologi, psikologi, dan pulsologi. Aliran Nafsian yang dikembangkannya itu bertujuan untuk menggantikan doktrin- doktrin kedokteran yang dicetuskan pendahulunya yakni Ibnu Sina alias Avicena dan Galen – seorang dokter Yunani. Al-Nafis menilai banyak teori yang dikemukakan kedua dokter termasyhur itu keliru. Antara lain tentang denyut, tulang, otot, panca indera, perut, terusan empedu, dan anatomi tubuh lainnya. Guna meluruskan teori dan doktrin kedok teran yang dianggapnya keliru itu, al-Nafsi lalu menggambar diagram yang melukiskan bagian-bagian tubuh yang berbeda dalam sistem fisiologi (kefaalan) yang dikembangkannya. Dalam Kitab Sharh al-Adwiya al-Murakkaba, al-Nafis mengomentari Canon of Medicine karya Ibnu Sina. Dalam bidang fisiologi, al-Nafis mengungkapkan, ''Darah dari kamar kanan jantung harus menuju bagian kiri jantung, namun tak ada bagian apapun yang menjembatani kedua bilik itu. Sekat tipis pada jantung tidak berlubang.'' Al-Nafis pun menambahkan, ‘’Dan bukan seperti apa yang dipikirkan Galen, tak ada pori-pori tersembunyi di dalam jantung. Darah dari bilik kanan harus melewati vena arteriosa (arteri paru-paru) menuju paru-paru, menyebar, berbaur dengan udara, lalu menuju arteria venosa (vena paru-paru) dan menuju bilik kiri jantung dan bentuk ini merupakan spirit vital.’‘ Selain itu, al-Nafis secara tegas mengungkapkan, ‘’Jantung hanya memiliki dua kamar. Dan antara dua bagian itu sungguh tidak saling terbuka. Dan, pembedahan juga membuktikan kebohongan yang mereka ungkapkan. Sekat antara dua bilik jantung lebih tipis dari apapun. Keuntungan yang didapat dengan adanya sekat ini adalah, darah pada bilik kanan dengan mudah menuju paru-paru, bercampur dengan udara di dalam paru-paru, kemudian didorong menuju arteria venosa ke bilik kiri dari dua bilik jantung…” Mengenai anatomi paruparu, Ibnu al-Nafis menulis, ’‘Paru-paru terdiri dari banyak bagian, pertama adalah bronkus, kedua adalah cabangcabang arteria venosa, dan ketiga adalah cabang-cabang vena arteriosa. Ketiganya terhubung oleh jaringan daging yang berongga.’ Pengakuan Barat terhadap Dokter Muslim George Sarton, bapak sejarah Sains mengakui bahwa penemuan sirkulasi paru-paru yang dicapai Ibnu al-Nafis sangat penting artinya bagi dunia kedokteran. ‘’Jika kebenaran teori Ibnu al-Nafis terbukti, maka dia harus diakui sebagai salah seorang dokter yang telah memberi pengaruh terhadap William Harvey. Ibnu Al-Nafis adalah seorang ahli fisiologi terhebat di abad pertengahan,’‘ ungkap Sarton tanpa tedeng aling-aling. Pengakuan yang sama juga diungkapkan Max Meyrholf, seorang ahli sejarah yang meneliti jejak kedokteran di dunia Arab. Meyrholf pun berkata, ‘’Kita telah melihat bahwa Ibnu Al-Nafis telah mengungkapkan penampakan saluran antara dua jenis pembuluh paru-paru.’‘ Penemuan yang mengguncang itu, papar dia, ditemukan tiga abad sebelum Realdo Colombo (wafat 1559 M) – dokter Barat — mencetuskannya. Dalam William Osler Medal Essay, Edward Coppola pun sepakat bahwa Ibnu al-Nafs adalah penemu sirkulasi paru-paru. Dalam esai itu, Coppola berkata, ‘’Teori sirkulasi paru-paru yang telah ditemukan Ibnu al-Nafis pada abad ke-13 M sungguh tak dapat terlupakan. Berabad-abad speninggalannya, hasil investigasi anatomi yang dilakukannya telah banyak memberi pengaruh terhadap Realdo Colombo dan Valverde. Malah, Encarta Encyclopedia 2003, secara tegas mematahkan klaim Barat yang selama berabad-abad mengklaim William Harvey se bagai pencetus teori sirkulasi paru-paru. Beri kut ini pernyataan Encarta Encyclope dia: ’‘Ibnu Al- Nafis begitu termasyhur lewat tulisan-tulis annya tentang fisilogi dan kedokteran. Kitab yang di tulisnya, Sharh Tashrih Al-Qanunmam pu men jelaskan sirkulasi paru-paru be berapa abad sebelum dokter Inggris, William Harver menjelaskan sirkulasi darah pada tahun 1628 M.’‘ Sementara itu, Joseph Schacht, mengungkapkan bahwa teori-terori yang diungkapkan Ibnu Al-Nafis begitu berpengaruh terhadap dokter-dokter di Barat. Selain itu, dia juga memuji Al-Nafis yang mampu melontarkan kritik terhadap Ibnu Sina dan Galen. Al-Nafis mampu mendirikan aliran kedokteran Nafsian dengan membuat penambahan bagian-bagian anatomi manusia. ‘’Kemungkinan Colombo telah mendalami teori-teori Ibnu Al-Nafis,’‘ papar Schacht. Ahli sejarah lainnya, Taj al-Din al-Subki (wafat 1370 M ) dan Ibnu Qadi Shuhba pun mengakui kehebatan Al-Nafsi. Menurut keduanya, tak pernah ada dokter di dunia ini yang seperti Al-Nafis. ‘’Sebagian orang mengatakan tak ada lagi dokter yang hebat setelah Ibnu Sina selain Ibnu Al-Nafis. Namun, sebagian menyatakan bahwa Al-Nafis lebih baik dari Ibnu Sina,’‘ papar keduanya.


 Anatomi dan Fisiologi Utama manusia:
 
1. Sistem pencernaan atau Gastro-intestinal
meliputi mulut, lambung, usus halus, usus besar, hati dan pankreas.

2. Sistem Kardiovaskuler
meliputi jantung, sistem darah dan sistem limfesan atau Respirasi

3  Sistem Ekskresi

4  Sistem rangka dan otot

5  Sistem saraf

6  Sistem Endokrin dan Metabolisme

Anatomi dan Fisiologi Manusia.
anatomi dan fisiologi adalah ilmu dalam bidang kesehatan / kedokteran yang mempelajari di dalamnya anatomi dan fisiologi metabolisme tubuh, anatomi dan fisiologi sistem saraf, anatomi dan fisiologi sistem digestif, anatomi dan fisiologi payudara, otak, panggul, dan bagian tubuh lainnya. ilmu anatomi tubuh manusia ini wajib dikuasi oleh mahasiswa bidang kedokteran khususnya, keperatan serta kebidanan.
·                     Anatomi adalah ilmu yang mempelajari struktur dan hubungan antara bagian-bagian tubuh.
·                     Fisiologi adalah ilmu yang mempelajari fungsi bagian-bagian tubuh dan tubuh secara   keseluruhan. Beberapa pengkhususan di dalam setiap ilmu ini adalah sebagai berikut.
·                     Anatomi kotor(anatomi makroskopik) adalah ilmu yang mempelajari bagian-bagian tubuh yang bisa dilihat oleh mata telanjang,seperti jantung dan tulang.
·                     Histologi adalah ilmu yang mempelajari jaringan-jaringan dalam tingkat mikroskopik.
·                     Sitologi adalah ilmu yang mempelajari sel-sel dalam tingkat mikroskopik.
·                     Neurofisiologi adalah ilmu yang mempelajari bagaimana system saraf berfungsi.

Organisasi dalam system Kehidupan
·                     Sistem Kehidupan dapat didefinisikan dari berbagai sudut pandang,dari yang paling luas(memperhatikan seluruh bumi) sampai yang paling kecil(tingkat atom).
·                     Pada tingkat kimia,atom,molekul(gabungan atom),dan ikatan kimia diantara atom menyediakan kerangka kerja yang menjadi dasar bagi semua kegiatan kehidupan.
·                     Sel adalah unit terkecil dari kehidupan. Organela dalam sel adalah bagian-bagian tubuh yang dikhususkan untuk melakukan fungsi-fungsi sel khusus. Sel sendiri juga dapat bersifat khusus. Karenanya terdapat sel saraf,sel tulang,dan sel otot.
·                     Jaringan adalah sekelompok yang mirip,yang melakukan fungsi-fungsi yang sama.
·                     Organ adalah sekelompok jaringan yang berbeda,yang bekerja sama untuk melakukan suatu kegiatan tertentu. Jantung adalah sebuah organ yang tediri atas jaringan otot,saraf,jaringan ikat,dan jaringan epitelum.
·                     Sistem organ adalah dua atau lebih organ,yang bekerja sama untuk mengerjakan suatu tugas tertentu. Contohnya, system pencernaan.
·                     Organisme adalah sebuah system yang mempunyai ciri-ciri mahluk hidup, yaitu mampu memperoleh dan memproses energi,mampu menghadapi perubahan-perubahan lingkungan,dan mampu berkembang biak.

Homeostasis
Homeostasis adalah suatu ciri yang dimiliki oleh semua system kehidupan,yaitu pemaliharaan keadaan internal yang stabil dalam batas-batas tertentu. Keadaan stabil ini dipelihara melalui umpan balik negative.
Dalam umpan balik negative,mekanisme pengindraan (reseptor) mengenali perubahan keadaan di luar batas-batas tertentu. Pusat control atau integrator(sering terdapat di otak) menilai perubahan tersebut dan mengaktifkan mekanisme kedua(efektor) untuk memperbaiki keadaan. Keadaan tersebut senantiasa dipantau oleh reseptor dan dievaluasi oleh pusat control. Ketika pusat control menentukan bahwa keadaan telah kembali normal,tindakan perbaikan tidak dilanjutkan lagi. Oleh karena itu,dalam umpan balik negative keadaan yang berbeda dibatalkan atau ditiadakan sehingga kondisi dapat kenbali normal. Sedangkan umpan balik positif,yaitu ketika suatu aksi meningkatkan keadaan sehingga semakin terdorong sampai melebihi batas normal. Umpan balik positif seperti itu adalah suatu hal yang tidak biasa,namun memang terjadi selama proses kelahiran bayi,proses menyusui,dan orgasme seksual.

Peristilahan Anatomi
·                     Potongan tubuh dan bagian-bagiannya digunakan untuk menggambarkan tubuh atau oran yang terbagi menjadi dua bagian.
·                     Potongan sagital membagi tubuh atau oragan sacara vertical menjadi bagian kiri dan kanan. Jika bagian kiri dan kanan sama,maka disebut potongan midsagital,jika tidak,maka disebut potongan parasagital
·                     Potongan frontal(koronal) membagi tubuh atau organ secara vertical menjadi dua bagian tubuh yaitu bagian depan dan belakang.
·                     Potongan horizontal(melintang) membagi tubuh secara horizontal menjadi bagian atas dan bawah.
·                     Rongga tubuh adalah daerah tertutup yang melindungi organ. Rongga tubuh bagian belakang(dorsal)meliputi rongga kranium(kepala yang melindungi otak) dan rongga vertebral(tulang belakang yang berisi sumsum tulang belakang). Rongga depan(ventral) meliputi rongga dada atau toraks(yang berisi paru-paru,masing-masing di dalam pleuronnya sendiri,dan jantung di rongga pericardia) dan rongga perut dan panggul(yang berisi organ-organ pencernaan di rongga perut,dan kandung kemih serta organ–organ reproduksi yang terdapat dalam rongga panggul).